Senin, 11 Juli 2016

Gadis itu adalah..

Ada sebuah cerita tentang seorang gadis yang menangis dalam penantiannya.
Di usia itu, dengan tulus gadis itu menunggu, cukup lama, tanpa ada yang berubah, meski seseorang itu mengenggam tangan gadis yang lain.
Dan seseorang itu mengulanginya lagi untuk yang ke dua kalinya.
Gadis itu lelah, tapi tidak ingin pergi.
Hingga gadis itu kesal pada dirinya sendiri, karena tidak tahu bagaimana caranya berhenti menunggu seseorang itu.

Waktu terus berlalu, dan gadis itu semakin berfikir dewasa.
Tapi berfikir dewasa tidak membuatnya berhenti menunggu.
Dan gadis itu begitu yakin atas apa yang ia rasakan.
Bahwa rasa itu tumbuh tulus dari hatinya.
Meski di usia itu, hati seseorang masih banyak berubah..
Tapi tidak baginya.
Gadis itu sering kali bersedih, karena seseorang itu tidak juga datang..
Dan ia masih menanti..
Dengan beberapa luka, gadis itu menjadi gadis yang tegar.
Ia tumbuh bersama perasaan itu..

Bukankan tentang menunggu adalah cerita yang melelahkan?
Sayangnya cerita itu nyata.

Siapa gadis itu?
...

Jika  kau adalah "seseorang" itu, maka pikirkanlah baik-baik. Gadis itu masih berdiri untukmu. Dan sepertinya kau tau siapa dia. Karena kau pernah menatap matanya, menjabat tangannya, dan memberinya harapan.

Jumat, 29 April 2016

Untuk Sebuah Luka..

Biarlah semuanya terjadi. Karena mungkin memang harus terjadi. Biarlah rasa sakit itu pergi dan kembali sesuka hatinya. Karena rasa sakit-lah yang menghalangi untuk melakukan hal bodoh.

Hanya saja rasa sakit itu datang di akhir. Dan terkadang terlalu banyak luka. Banyak sekali, sampai lupa bagaimana rasanya. Dan semuanya terasa sangat memuakkan.

Jika sudah seperti itu, haruskah merengek? Atau berteriak untuk semua orang bahwa aku sudah terluka? Tidak. Karena tidak akan ada yang menyembuhkan luka. Bagaimana dengan waktu? Tidak juga. Waktu tidak akan menyembuhkannya. Yang ada hanyalah yang menutup luka. Entah luka itu akan tertutup sempurna atau tidak, luka itu akan tetap ada. Dan akan selalu ada. Itulah mengapa rasa sakit itu ada. Karena luka itu menyakitkan, maka untuk langkah selanjutnya, entah akan berjalan dijalan yang sama atau mungkin beralih, rasa itu akan menuntun untuk lebih berhati-hati.

Dan luka itu masih ada. Sekali lagi itu menyakitkan.. Karena 'kebodohan' berhasil lolos dari penghalangnya--rasa sakit. Karena aku telah berjalan dijalan yang sama, dan mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan? Ya, sebuah kesalahan. Kesalahan yang sulit sekali rasanya untuk menghindarinya... Aku mencintainya (lagi). Ya, aku mencintai "Si Pembuat Luka". Aku mencintainya untuk kesekian kalinya.

Dapatkah aku bertanya?

Pertanyaannya seperti ini...

"Dapatkah "Si Pembuat Luka" menutup luka yang ia buat?"

Entahlah..


"Aku.. mencintaimu, Si Pembuat Luka!"